Mars dan Keunikannya

Mars merupakan planet merah yang letaknya terdekat keempat dari Matahari. Planet yang orbitnya berada di antara orbit Bumi dan Jupiter ini memiliki jarak dari Matahari sekitar 1,52 kali jarak Matahari ke Bumi dan periode revolusinya hampir dua kali lebih lama dibandingkan Bumi, tepatnya 1,88 tahun. Terdapat beberapa kemiripan antara Mars dan Bumi dalam hal periode rotasi dan kemiringan sumbu rotasi. Periode rotasi Mars sedikit lebih lama dibanding satu hari di Bumi, yaitu sekitar 24 jam 37 menit 22,6 detik. Selain itu, Mars memiliki kemiringan sumbu rotasi sebesar 25°,19, hampir sama dengan Bumi kita, yaitu 23°,44. Hal ini menyebabkan planet Mars dan Bumi memiliki empat musim. Mars mempunyai permukaan yang berupa kerak keras sehingga digolongkan sebagai planet terestrial. Permukaan Mars berupa daratan kering, tak berair, dan berwarna kemerahan. Warna merah permukaan Mars didapat dari oksidasi besi yang terdapat di batuan dan tanah permukaannya. Sedikit area berwarna putih ada di kutub Mars yang merupakan es kering dari karbon dioksida.

PIA00407_modest_NASA_ global color view of marsGambaran warna global (global color view) Mars.
Kredit: NASA/JPL/USGS

Keberadaan karbon dioksida yang banyak juga ditemukan pada atmosfer Mars. Komposisi atmosfer di Mars terdiri atas karbon dioksida (CO2)  sekitar 95,32%, nitrogen (N2) sekitar 2,7%, argon (Ar) sekitar 1,6%, oksigen (O2) sekitar 0,03%, karbon monoksida (CO) sekitar 0,07%, dan gas lainnya. Atmosfer Mars sangat tipis, tekanan di permukaannya kurang lebih hanya 0,6% dari atmosfer Bumi. Total massa atmosfer Mars adalah ~2,5 x 1016 kg, sedangkan Bumi adalah  5,1 x 1018 kg. Mars tidak memiliki magnetosfer (lapisan medan magnet) sehingga angin Matahari langsung berinteraksi dengan ionosfer. Akibatnya, ion-ion pada atmosfer yang berinteraksi dengan partikel bermuatan dari Matahari akan mengalami percepatan dengan arah sedemikian rupa sehingga membuat ion-ion atmosfer lepas ke ruang angkasa.

Karena Mars kering, dingin, dan memiliki atmosfer yang sangat tipis, maka tekanan atmosfer di permukaan Mars sangat rendah. Tekanan rata-rata di permukaaan Mars adalah 6,36 milibar, bandingkan dengan di Bumi yang tekanannya sekitar 1014 milibar. Tekanan udara yang rendah ini tidak memungkinkan untuk terbentuknya uap air seperti di Bumi. Rata-rata temperatur di Mars adalah ~210 K (-63 oC), sedangkan di Bumi sekitar 25 oC. Atmosfer Mars diperkirakan pernah lebih tebal dibandingkan dengan saat ini. Angin Matahari yang intensif pada awal pembentukan Tata Surya disinyalir sebagai penyebab utama lepasnya ion dari atmosfer Mars ke luar angkasa yang membuat atmosfer Mars terus berevolusi hingga menjadi tipis seperti saat ini.

Saintis mempunyai pemahaman yang cukup baik terhadap permukaan Mars dibandingkan dengan permukaan objek lain selain Bumi dan Bulan. Berbagai misi diluncurkan dan beroperasi di Mars. Yang terbaru adalah wahana pendarat (lander) Schiaparelli yang diluncurkan oleh tim European Space Agency (ESA) dan Roscosmos Rusia pada 14 Maret 2016 lalu. Berbagai peluncuran wahana ke Mars bertujuan untuk mengeksplorasi kondisi nyata di Mars. Hal ini dilakukan sebagai persiapan untuk misi membawa manusia ke sana. “Mars kaya akan destinasi untuk penelitian ilmiah, eksplorasi robotik dan manusia untuk memperluas pemahaman posisi kita di Tata Surya,” tulis Gary Daines, editor web NASA dalam artikel NASA’s Journey to Mars. Gary menjelaskan bahwa permukaan Mars telah dieksplorasi oleh robot lebih dari 40 tahun. Salah satu misi eksplorasi Mars yang lain, yaitu Curiosity, memiliki tujuan untuk menjawab pertanyaan tentang kelayakhunian dari Mars, yaitu apakah Mars pernah atau telah bisa mendukung bentuk kehidupan. Dengan wahana penjelajah (rover) yang bernama Curiosity, misi Mars Science Laboratory ini adalah bagian dari penelitian jangka panjang eksplorasi robot dari planet merah ini (NASA’s Mars Exploration Program). Berdasarkan hasil pengukuran instrumen pemantau cuaca Mars pada robot Curiosity, Rover Environmental Monitoring Station (REMS), temperatur di permukaan Mars dapat memiliki perbedaan yang cukup besar antara temperatur maksimum dan minimum. Per tanggal 15 Maret 2017, temperatur maksimum di permukaan Mars mencapai 15°C, sedangkan temperatur minimumnya mencapai -83°C.

Banyak pengetahuan mengenai permukaan Mars telah diperoleh dari hasil pengamatan misi-misi tersebut. Berbagai misi dapat merekam lanskap alam berupa gunung-gunung vulkanik yang menandakan terjadinya proses vulkanisme, gundukan pasir dengan riak-riak seperti di Bumi akibat aktivitas angin, dan kawah-kawah tumbukan meteorit. Terdapat bekas-bekas pengikisan seperti di Bumi sebagai bukti Mars pernah mengalami proses aluvial (bentukan karena aliran). Lapisan atas tanah secara terus menerus mengalami erosi karena aktivitas aeolian (angin) dan komposisinya selalu berubah-ubah akibat atmosfer yang tipis karena paparan partikel dari Matahari. Badai global dapat terjadi di seluruh permukaan Mars sewaktu-waktu. Atmosfer Mars yang tipis sensitif terhadap perubahan temperatur akibat perubahan jarak Mars terhadap Matahari.

Satu lagi hal yang menarik tentang Mars ditemukan setelah seorang astronom asal Italia, Giovanni Schiaparelli, mengamati citra Mars dan melihat bahwa ada fitur yang masih dapat terlihat saat Mars mengalami badai global. Selanjutnya, dari hasil pengamatan misi Mariner 9, diketahui bahwa fitur tersebut adalah sebuah gunung yang besar dan tinggi. Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Tata Surya yang pernah teramati. Gunung tersebut kemudian diberi nama Olympus Mons, dari kata Olympus yang merupakan sebutan untuk rumah para dewa Yunani dalam mitologi mereka. Olympus Mons terletak pada posisi 18,65° LU dan 226,2° BT pada koordinat permukaan Mars. Gunung ini mempunyai tinggi hampir 25 km, bandingkan dengan gunung tertinggi di Bumi yaitu Everest dengan tinggi sekitar 8,8 km. Selain itu, Olympus Mons juga mempunyai kaki gunung yang sangat lebar, mencapai 600 km. Kaki gunung berapi terlebar yang ada di Bumi dimiliki oleh Gunung Mauna Loa yang ada di bawah permukaan samudera Pasifik dengan lebar hanya sekitar 100 km.

picture 2
Ilustrasi perbandingan Olympus Mons, gunung tertinggi di Mars (bahkan Tata Surya)
dengan Everest (gunung tertinggi di Bumi) serta Mauna Kea.
Kredit/pengunggah: Stevy76

Keunikan Olympus Mons juga terlihat dari posisinya di lingkungan hamparan permukaan Mars. Olympus Mons, gunung tertinggi di Mars, justru terletak di belahan Mars utara yang permukaannya rendah, cenderung datar, dan berusia muda, bukan di belahan Mars selatan yang relatif lebih tinggi. Keunikan lainnya adalah Olympus Mons memiliki kaldera besar di puncaknya, menjadikannya seperti terpancung jika dilihat dari jauh, mirip Gunung Tangkuban Perahu. Kaldera tersebut merupakan sisa dari proses ledakan besar aktivitas vulkanik di masa lampau.

Fakta lainnya adalah ada kemungkinan Olympus Mons masih aktif. Fakta ini diketahui dari hasil analisis saintis pada citra yang diperoleh dari misi Mars Express milik ESA. Terlihat adanya sisa aliran lava dari gunung vulkanik tersebut yang juga sebagian berupa glasial. Diduga proses aliran lava tersebut terjadi dalam rentang waktu dua juta tahun terakhir. Oleh karena itu, saintis menduga mungkin saja gunung ini masih aktif hingga saat ini dan bisa meletus sewaktu-waktu. Jika itu terjadi, mungkin saja akan memengaruhi Mars secara global. Jika letusan Krakatau yang tak begitu besar saja sudah sukses membuat Bumi kacau balau, apalagi Olympus Mons yang berkali-kali lipat besarnya. Jika Olympus Mons ada di Bumi, mungkin Bumi sudah hancur lebur terkena satu kali letusan saja.

Aktivitas vulkanik Olympus Mons menghasilkan aliran lava yang juga dapat meremajakan permukaan Mars. Peremajaan ini berlangsung berkali-kali sehingga terbentuk lapisan di permukaan Mars. Hal inilah yang mungkin menyebabkan permukaan di belahan Mars utara lebih muda dan tidak tampak banyak kawah akibat tumbukan asteroid. Dengan kata lain, Olympus Mons mempunyai peran signifikan yang membentuk keanehan terhadap lingkungannya seperti yang telah kita bahas sebelumnya.

picture 3Olympus Mons, diambil dari orbiter Viking 1.
Kredit: NASA/JPL

Aktivitas vulkanik di Mars tersebut dijadikan sebagai penanda bahwa kemungkinan besar Mars mempunyai sejarah pembentukan dan evolusi yang mirip dengan Bumi. Oleh karena itu, mempelajari Mars lebih jauh akan mungkin banyak memberi pengetahuan evolusi Bumi nantinya. Lebih jauh lagi, penampakan fitur seperti aliran air di Mars juga dicurigai menjadi indikasi adanya kehidupan Mars di masa lampau. Sisa kehidupan tersebut juga bisa dicari saat ini sehingga pencarian ‘alien’ terdekat dapat dimulai dari Mars. Untuk pencarian alien lebih jauh, nantikan artikel selanjutnya tentang pencarian ‘alien’.

Referensi:

Penulis: Siti Fatima
Editor: Fathin Qurratu Ainy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s