Akankah Kita Menemukan Alien?

Pencarian kehidupan di luar Bumi (ekstraterestrial) memang selalu menarik untuk dibicarakan. Kebanyakan orang selalu bertanya apakah sebenarnya kita (umat manusia) sendirian di alam semesta. Mengingat bahwa alam semesta ini sangatlah luas, sepertinya tidak mungkin kalau kehidupan hanya ada di Bumi. Seandainya ada kehidupan di planet lain, seperti apa bentuk kehidupan di sana? Apakah berbeda dengan kehidupan seperti yang kita kenal (life as we know it)?

Bumi Belum Tentu Unik

Pencarian kehidupan di luar Bumi telah dimulai sejak lama, salah satunya ketika wahana antariksa Viking 1 dan 2 mendarat di Mars untuk mempelajari lingkungan di sana. Hal yang menarik adalah data yang dikirimkan oleh kedua wahana itu menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan di “Planet Merah” tersebut. Ada indikasi bahwa terdapat sesuatu – mungkin mikroba – yang mengonsumsi nutrisi dan menghasilkan gas seperti karbon dioksida di pasir Mars. Sayangnya, ketika wahana tersebut gagal menemukan molekul organik yang merupakan komponen utama penyusun organisme, para ilmuwan menyimpulkan bahwa tidak ada alien yang hidup di sana. Meskipun hingga saat ini para ilmuwan belum menemukan adanya kehidupan di Mars, usaha untuk mencari kehidupan lain di Tata Surya tetap terus dilakukan. Berbagai wahana antariksa dikirim ke planet, asteroid, dan satelit alami untuk menemukan lingkungan yang mendukung adanya kehidupan.

menemukan alien - 1.jpg
Bumi.
Kredit: NASA.

Tata Surya kita yang terdiri dari Matahari dan objek-objek yang mengelilinginya seperti planet-planet bukanlah sistem yang unik di alam semesta. Di galaksi Bima Sakti saja, para astronom telah menemukan ribuan planet baru. Banyak di antara planet-planet tersebut yang diduga mirip dengan Bumi yang dilengkapi dengan lautan, atmosfer, dan mungkin kehidupan. Inilah yang membuat para astronom termotivasi untuk mencari kehidupan ekstraterestrial dengan menggunakan wahana antariksa dan teleskop yang lebih canggih.

Pencarian Kehidupan Cerdas

Tidak diragukan lagi, bentuk kehidupan alien yang paling menarik untuk dicari adalah kehidupan yang cerdas. Kehidupan cerdas yang dimaksud adalah kehidupan seperti yang digambarkan oleh Carl Sagan dalam film “Contact”. Alien dengan peradaban yang maju mungkin telah menggunakan sinyal radio untuk komunikasi mereka. Para astronom kini mencoba untuk “mencuri dengar” sinyal radio yang berasal dari peradaban nun jauh di sana. Penelitian tersebut memang telah dijalankan di institut SETI (Search for Extraterrestrial Intelligence) dengan menggunakan teleskop radio yang berada di New Mexico.

menemukan alien - 2.jpg
Salah satu teleskop radio yang digunakan untuk penelitian SETI.
Sumber: Image

Pada tahun 1960-an, fisikawan yang bernama Freeman Dyson berpendapat bahwa alien dengan peradaban maju mungkin menggunakan sumber energi dari bintang induknya untuk menunjang kehidupan mereka. Dengan mengonsumsi energi tersebut – misal untuk menggunakan komputer, televisi, pesawat, atau apapun yang mereka butuhkan – maka seharusnya terbentuk suatu radiasi panas, seperti saat laptopmu menjadi panas ketika kamu gunakan. Jika peradaban alien tersebut telah menguasai suatu galaksi, maka seharusnya kita bisa mendeteksi keberadaan mereka dengan mencari galaksi-galaksi yang meradiasikan panas lebih besar dari yang seharusnya.

Inilah yang memotivasi astronom dari Penn State University yang bernama Jason Wright untuk mencari kehidupan di galaksi lain. Mereka meneliti lebih dari 100.000 citra galaksi yang diamati oleh satelit WISE (Wide-field Infrared Survey Explorer) untuk mencari panas berlebih tersebut. Sayangnya mereka tidak menemukan satupun galaksi yang mungkin telah dikuasai oleh peradaban alien. Wright kemudian berpikir, “Mungkin alien yang memiliki teknologi super maju dan telah menguasai galaksi adalah kasus yang langka. Mungkin saja mereka masih belum meninggalkan planetnya,” dan inilah yang memicu Wright dan timnya untuk mempelajari galaksi-galaksi dengan lebih detail dan mencari suatu daerah tertentu yang memproduksi panas berlebih.

menemukan alien - 3.png
Daerah yang dijadikan target observasi misi Kepler untuk mencari planet alien.
Kredit: NASA/Carter Roberts.

Pencarian kehidupan cerdas di luar Tata Surya memang masih terus dillakukan. Namun perlu diingat bahwa kehidupan di Bumi baru muncul sekitar 3,5 miliar tahun yang lalu dan kehidupan cerdas (dalam hal ini kita anggap bahwa manusia adalah makhluk yang cerdas) baru menguasai Bumi sekitar 200 ribu tahun yang lalu. Dalam sejarah evolusi Bumi kehidupan yang paling lama bertahan adalah kehidupan para mikroba. Mungkin kita perlu mencari kehidupan sederhana terlebih dahulu seperti para mikroba dan mungkin tempat terdekatnya ada di Tata Surya kita.

Alien di “Planet Sebelah”

Mungkin kamu berpikir bahwa alien hanya bisa hidup di suatu planet. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu. Alien pun mungkin bisa hidup di satelit alami suatu planet. Salah satu tempat yang menarik untuk mencari kehidupan adalah di satelit terbesar milik Saturnus yaitu Titan. Titan memiliki atmosfer yang tebal dan merupakan satu-satunya tempat di Tata Surya yang memiliki lautan dan danau di permukaannya (selain Bumi). Sayangnya, lautan dan danau tersebut bukan berisi air seperti di Bumi, melainkan diisi oleh metana. Para ilmuwan berpikir bahwa cairan (tidak selalu air) memang penting untuk kehidupan. Mungkin saja alien di Titan justru menggunakan metana dalam kehidupannya sehingga secara fundamental bentuk kehidupan mereka berbeda dengan kehidupan di Bumi. Alien tersebut juga harus mampu bertahan di temperatur Titan yang bisa mencapai -180°. Hal ini membuat peluang kita untuk menemukan kehidupan seperti yang kita kenal menjadi sangat kecil.

menemukan alien - 4.jpg
Ilustrasi planet yang dihuni alien.
Kredit: NASA/JPL-Caltech.

Tempat-tempat lain yang juga mungkin menunjang adanya kehidupan namun masih perlu diteliti lebih lanjut antara lain Mars, satelit Saturnus yaitu Enceladus, dan satelit Jupiter yaitu Europa. Di Mars, lingkungan yang memungkinkan terbentuknya kehidupan terjadi di masa lampau ketika Mars lebih hangat dan dipenuhi sungai dan danau. Pada saat ini Mars sudah tandus dan tidak layak huni bagi kehidupan seperti manusia. Menurut Jim Kasting, astronom dari Penn State University, para mikroba mungkin hidup di beberapa kilometer di bawah permukaan di mana temperatur masih hangat dan terdapat air dalam bentuk cair. Namun, untuk membuktikan hal ini kita harus mengirim astronaut untuk mengebor tanah Mars. Sementara itu, mendeteksi kehidupan di Europa juga memerlukan pengeboran. Lapisan es yang tebal (mungkin beberapa kilometer) sepertinya menyelimuti lautan yang dapat mendukung adanya kehidupan. Sayangnya misi untuk mendarat dan mengebor merupakan misi yang sulit dan mahal. Akan lebih mudah jika studi tersebut dilakukan dari ruang angkasa.

Pemikiran tersebut mengantarkan McKay, astronom NASA Ames Research Center, dan timnya untuk mengirimkan wahana yang akan menjelajah Enceladus. Tidak seperti lautan Europa yang berada di bawah permukaan dan sulit diakses, Enceladus justru menyemburkan air ke permukaan melalui geiser. Geiser ini ditemukan pada tahun 2009 ketika Cassini sedang lewat di dekat satelit es tersebut. Tanda-tanda kehidupan dari lautan di bawah permukaan Enceladus mungkin disemburkan oleh geiser tersebut dan dapat diamati jika kita mengirimkan wahana untuk mempelajarinya. Wahana antariksa pemburu alien tersebut akan mencari dua tipe molekul yaitu lipid dan asam amino. Contoh dari lipid adalah lemak dan minyak. Molekul lipid penting untuk membangun struktur dan fungsi sel. Asam amino merupakan komponen utama penyusun protein.

Mengintip Kehiduan Alien

Kesempatan untuk menemukan alien akan lebih besar jika kita mengamati planet-planet di luar Tata Surya. Kekurangan dari misi pengiriman wahana antariksa adalah wahana tersebut hanya bisa mengunjungi satu tempat pada satu waktu. Cara yang lebih efisien adalah dengan mengamati menggunakan teleskop luar angkasa. Selain mencari lipid dan asam amino, teleskop tersebut juga mampu mencari molekul lain seperti oksigen dan gas-gas lain yang menunjukkan keberadaan alien yang bernapas. Misi semacam ini telah dilakukan oleh teleskop luar angkasa Kepler NASA. Selain itu, NASA juga akan meluncurkan teleskop terbarunya yang bernama Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) pada tahun 2017. Kepler dan TESS akan mencari planet-planet yang melintas di depan bintang induknya yang menyebabkan cahaya bintang tersebut meredup. Pada tahun 2018, James Webb Telescope juga direncanakan akan diluncurkan dengan salah satu misinya untuk mempelajari atmosfer planet-planet di luar Tata Surya. Ketika suatu planet lewat di depan bintang induknya, sebagian cahaya dari bintang tersebut akan melewati atmosfer planet. Atmosfer planet tersebut akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu yang bergantung pada komposisi kimia atmosfer. Dengan cara tersebut para astronom dapat mengidentifikasi gas-gas yang mengisi atmosfer planet tersebut. Salah satu gas yang diharapkan untuk terdeteksi adalah oksigen. Karena oksigen akan cepat bereaksi dengan senyawa kimia lain, harus ada sesuatu yang hidup untuk menghasilkan oksigen dan menjaganya tetap berlimpah di atmosfer. Sebagai perbandingan, di Bumi peran tersebut dilakukan oleh tumbuhan dan bakteri.

menemukan alien - 5.jpg
Mempelajari atmosfer planet luar Tata Surya.
Kredit: NASA/JPL-Caltech.

Tentu saja menemukan kehidupan tidak sesederhana dibuktikan dengan ditemukannya gas tertentu. Untuk menentukan bahwa gas tersebut berasal dari makhluk biologis, para astronom perlu memahami properti kimia planet tersebut dengan lebih detail. Masalah lain yang kita hadapi adalah tidak ada yang tahu seperti apa kehidupan alien sebenarnya. Kriteria kehidupan yang sebelumnya diajukan merupakan bentuk kehidupan seperti yang kita kenal di Bumi. Meskipun begitu, saat ini telah banyak kandidat planet di luar Tata Surya yang masuk dalam kriteria layak huni. Dengan kata lain, suatu bentuk kehidupan mungkin bisa bertahan di planet tersebut. Oleh karena itu penelitian untuk mencari kehidupan ekstraterestrial hingga kini masih tetap dilakukan. Akan menjadi hal yang menarik jika ternyata kita tidak sendirian di alam semesta ini.

Referensi:

  1. http://www.bbc.com/earth/story/20150429-will-we-find-aliens
  2. http://www.bbc.com/news/science-environment-31855395
  3. http://www.annualreviews.org/doi/pdf/10.1146/annurev-astro-081309-130837

Penulis: Irham Taufik Andika
Editor: Fathin Qurratu Ainy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s