Bulan Sabit Muda

Pada sistem kalender Hijriah, awal bulan ditandai dengan Bulan sabit muda setelah konjungsi. Dalam penentuan Bulan sabit muda di sore hari atau sering disebut dengan hilal, diperlukan sebuah kriteria tentang visibilitas hilal. Saat ini, kriteria yang digunakan di berbagai negara berbeda-beda. Indonesia menggunakan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yang berisi tiga poin dan lebih dikenal dengan kriteria 2-3-8. Poin pertama, minimal perbedaan tinggi Bulan dengan Matahari sebesar 2°. Poin kedua, minimal sudut elongasi antara Bulan dengan Matahari sebesar 3°. Poin ketiga, minimal usia Bulan sebesar 8 jam. Kriteria tersebut berlaku untuk lokasi pengamatan di Pelabuhan Ratu, yang merupakan lokasi acuan pengamatan hilal di Indonesia.

crmoon.jpg
Penampakan Bulan sabit
Kredit: Dave Lane and Greg Palman

Penerapan kriteria MABIMS pun berbeda-beda pada setiap negara, contohnya dalam penentuan awal tahun 1439 H. Indonesia menyatakan 1 Muharram 1439 H jatuh pada tanggal pada 21 September 2017, sedangkan Malaysia menyatakan 1 Muharram 1439 H jatuh pada tanggal 22 September 2017. Kriteria MABIMS masih dipermasalahkan dalam hal validitas visibilitas hilal dari sudut pandang astronomi. Sudut elongasi Bulan dengan Matahari sebesar 3° akan sangat sulit diamati dengan mata langsung, bahkan dengan bantuan alat optik pun masih sulit diamati. Kondisi atmosfer, paralaks horizontal, Bulan saat perigee maupun apogee, kontras langit, lokasi pengamat, tanggal pengamatan, iluminasi Bulan, dan lebar sabit memengaruhi visibilitas hilal.

Terdapat empat poin konsekuensi dari penggunaan hilal sebagai acuan kalender Hijriah. Poin pertama, jumlah hari dalam satu bulan menjadi 29 hari atau 30 hari. Poin kedua, setahun terdiri dari 12 bulan dan jumlah hari dalam setahun menjadi 354 hari atau 355 hari. Poin ketiga, jumlah maksimum bulan dengan 30 hari secara berurutan adalah 4 bulan dan jumlah maksimum bulan dengan 29 hari secara berurutan adalah 3 bulan. Contohnya adalah pada tahun 1412 H di benua Asia, terdapat empat bulan dengan 30 hari secara berturut-turut yaitu Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, dan Sya’ban (Ilyas, 1994) dan pada tahun 1419 H di benua Amerika, terdapat empat bulan dengan 30 hari secara berturut-turut yaitu Rajab, Sya’ban, Ramadhan, dan Syawal (Ilyas, 1995). Poin keempat, jumlah bulan dengan 30 hari lebih banyak dibandingkan dengan bulan yang terdiri dari 29 hari.

Terdapat tiga poin penting dalam parameter penentuan visibilitas Bulan sabit muda, yaitu arc of vision, relative azimuth, dan arc of light (Odeh, 2004). Arc of vision adalah beda tinggi atau altitude antara posisi Bulan dengan Matahari. Relative azimuth adalah beda azimut antara posisi Bulan dengan Matahari. Arc of light adalah sudut elongasi antara Bulan dengan Matahari yang diamati dari permukaan Bumi (toposentris atau pusat ada di permukaan Bumi). Terdapat tujuh parameter dalam penentuan visibilitas Bulan sabit muda, tiga diantaranya telah disebutkan sebelumnya. Selain ketiga parameter tersebut, terdapat parameter lainnya yaitu usia Bulan (beda waktu antara waktu konjungsi dengan waktu observasi), lag time (beda waktu antara Bulan terbenam dan Matahari terbenam), altitude Bulan, dan lebar sabit (Odeh, 2004).

sdfsdfjjj.png
Geometri dasar dalam menentukan Bulan sabit muda (Odeh, 2004).
Keterangan: ARCL: arc of light, ARCV: arc of vision, dan DAZ: relative azimuth.

Pada penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah, terdapat batas nilai arc of light. Danjon (1936) mengatakan bahwa bulan sabit muda tidak dapat teramati jika arc of light-nya kurang dari 7°. Nilai tersebut kemudian digunakan sebagai limit Danjon (Schaefer,1991). Kemudian, Odeh (2004) merevisi nilai arc of light sebesar 6,4°, dibuktikan oleh hasil observasi Jim Stamm dengan bantuan alat optik. Oleh karena itu, diperolehlah limit Danjon yang nilainya lebih kecil, yaitu sebesar 6,4°.

Lalu, bagaimana dengan penentuan 1 Syawal 1438 H di Indonesia? Menurut kalendar Hijriah yang berlaku di Indonesia, 1 Syawal 1438 H bertepatan dengan 25 Juni 2017. Menurut Sopwan (2008), hilal pada tanggal 24 Juni 2017 di Pelabuhan Ratu berada pada ketinggian 3,7°, usia Bulan 8,28 jam, dan elongasi sebesar 5,7°, maka malam hari sudah memasuki 1 Syawal 1438 H sesuai dengan kriteria MABIMS. Dengan demikian, 25 Juni 2017 merupakan 1 Syawal 1438 H sebagai Hari Raya Idul Fitri di Indonesia (Ed: keputusan akhir tetap menunggu hasil rukyat dan pemerintah).

Penampakan Bulan sabit muda merupakan fenomena lokal. Dalam hari yang sama, ketika Bulan sabit muda belum dapat terlihat di belahan timur Bumi, bisa jadi orang-orang di belahan barat Bumi dapat melihatnya. Dengan sifat lokal ini, tidak dapat dipaksakan untuk menyatakan bahwa belahan timur Bumi sudah memasuki awal Bulan seperti yang terjadi di belahan barat Bumi. Pada daerah lingkaran Arktika dan lingkaran Antartika (daerah kutub), terjadi fenomena Matahari yang tidak terbenam, maka akan terjadi usia Bulan lebih dari 48 jam setelah konjungsi agar Bulan sabit muda dapat terlihat dengan mata langsung. Di daerah itu, umumnya Bulan sabit muda dapat terlihat dengan mata langsung setelah 3 hari dari konjungsi (Raharto, 2010).

Sumber:

  1. Danjon, A., 1936, L’Astronomie, 50, 2.
  2. Ilyas, M., 1994, Lunar Crescent Visibility Criterion and Islamic Calendar, Royal Astronomical Society, 35, 425-461.
  3. Ilyas, M., 1994, New Moon’s Visibility and International Islamic Calendar for the Asia-Pacific Region, 1407H-1421H, Malaysia: COMSTECH and RISEAP.
  4. Ilyas, M., 1995, New Moon’s Visibility and International Islamic Calendar for the America Region, 1407H-1421H, Malaysia: COMSTECH and RISEAP.
  5. Odeh, M. S., 2004, New Criterion for Lunar Crescent Visibility, Experimental astronomy, 18, 39-64.
  6. Raharto, M., 2010, Memahami Fasa Bulan Sebagai Acuan Kalendar Bulan dan Pengantar Sains Hilal, Astronomi ITB.
  7. Raharto, M., 2017, Ramadhan dan Syawal 1438 H di Indonesia.
  8. Rodhiyah, A. K., 2017, Telaah Awal Penggunaan Arc of Light sebagai Kriteria Tunggal Visibilitas Bulan Sabit Muda, Tugas Akhir Jurusan Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung.
  9. Schaefer, B., 1991, Length of the Lunar Crescent, J. R. astr. Soc., 32, 265-277.
  10. Sopwan, N., 2008, Karakteristik Hilal Metonik Dekat Equinox, Solstice, Perihelion, dan Aphelion, Tugas Akhir Jurusan Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung.

Penulis: Al Khansa Rhodiyah
Editor: Fathin Qurratu Ainy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s